Gaya hidup moderen copy from cakrawala blogger
GAYA HIDUP MODERN
Jaman modern sekarang ini ditandai dengan berbagai
macam perubahan cepat yang terjadi di beberapa bidang
dalam kehidupan masyrakat. Pada satu sisi, perubahan-
perubahan yang terjadi menimbulkan kemajuan dan
pertumbuhan hidup dan kehidupan manusia. Tetapi pada
sisi yang lain, proses dan hasil perubahan tersebut
menimbulkan banyak masalah yang berdampak pada hidup
dan kehidupan manusia.
Jaman modern ditandai dengan munculnya beberapa gaya
hidup modern, yang pada sisi tertentu menimbulkan
persoalan jika dipandang dari sisi nilai-nilai yang sudah ada
sebelumnya termasuk dari sisi nilai-nilai agama. Ada
banyak orang merasa tidak sanggup menjawab setiap
persoalan yang muncul sebagai akibat adanya gaya hidup
modern, karena mereka merasa tidak memiliki “pegangan
nilai” lagi. Seolah-olah, nilai-nilai yang pernah ada
sebelumnya dan yang sedang ada sekarang ini tidak
sanggup menjawab semua masalah yang muncul. Manusia
merasa bingung, merasa tidak berdaya menghadapi
perkembangan dan kemajuan jaman modern. Salah satu
hal yang menggelisahkan adalah persoalan nilai-nilai moral.
Oleh karena itu, dalam menghadapi jaman modern sangat
perlu untuk merumuskan kembali nilai-nilai moral yang
dinamis.
Merumuskan nilai moral berkaitan dengan kemauan
manusia untuk memberi sikap terhadap situasi yang ada di
sekitarnya berdasarkan nilai-nilai yang dimilikinya berkaitan
dengan tujuan yang hendak dicapai berdasarkan mutu
hubungan manusia dengan sesama dan lingkungannya.
Penilaian moral juga berkaitan dengan gaya hidup modern
yang mana hendak diberi sikap.
A. MEMBANGUN NILAI-NILAI MORAL
Moral dan moralitas berkaitan dengan keutuhan segi
batiniah dan segi lahiriah. Bahwa yang lahiriah adalah
perwujudan dari yang batiniah, yang batiniah mendasari
segi yang lahiriah, yang lahiriah menjelaskan yang batiniah,
dan yang batiniah terwujud dalam yang lahiriah. orang
yang baik adalah orang yang memiliki sikap batin, sikap
yang baik, dan melakukan hal-hal yang baik sebagaimana
sikap batinnya, dan sikap hatinya.
Mengukur dan menilai moral memang bukan hal yang
mudah, tetapi secara umum orang mempertimbangkan
moral dari apa yang ada di dalam hati manusia dan ukuran
yang dipakai orang untuk mengukur kita. Berkaitan dengan
ini, maka kita seringkali terdengar iastilah hati nurani dan
norma. Hati nurani menunjuk kepada apa yang benar, apa
yang baik menurut segi batiniah manusia (dirinya sendiri)
sebagai pribadi, sedangkan norma menunjukkan kepada
apa yang benar, apa yang baik menurut semua orang (sisi
lahiriah manusia dalam kaitan dengan orang lain). Norma
diberikan kepada seseorang supaya ia dapat memahami
hal-hal yang baik (kebaikan) supaya ia dapat hidup sesuai
dengan norma-norma itu, sedangkan hati nurani menolong
seseorang, mendorong seseorang untuk lebih serius, lebih
bersemangat mengejar kebaikan (hal-hal yang baik) secara
normatif (berdasarkan norma), sesuai dengan nilai-nilai
yang ada di dalam hati nurani.
Norma biasanya diajarkan melalui orang tua, guru-guru,
tetangga, sahabat, kenalan, majalah, koran, tabloid, televisi,
radio, dan sebagainya. Norma selalu dipakai seseorang
sebagai pertimbangan dalam menentukan tindakannya,
tetapi hati nurani yang memutuskannya, mana tindakan
yang perlu dilakukan. Hati nurani kadang kala tidak mampu
memberi pertimbangan yang baik, kadang memberi
pertimbangan yang keliru, memberi pertimbangan yang
tidak tegas, tidak jelas, bahkan bisa salah. Oleh sebab itu,
memahami dan mengerti norma dengan baik merupakan
hal yang tidak boleh diabaikan. Norma pun kadang kala
juga bisa tidak tepat atau keliru. Oleh sebab itu, hati nurani
memiliki peran untuk mempertimbangkannya. Norma
berlaku seperti rambu-rambu lalu lintas, yang memberi
petunjuk kepada seseorang untuk melakukan perjalanan
menuju kebaikan, kemudian hati nurani yang memutuskan
untuk mengikuti petunjuk jalan itu atau tidak. Hati nurani
berhak untuk mengikuti atau tidak mengikuti petunjuk-
petunjuk itu, jika norma-norma yang ada bertentangan
dengan keyakinan hati nurani kita. Hati nurani harus terus
menerus menjadi dewasa, sehingga kita semakin mampu
menyelidiki norma-norma yang diajarkan atau ditawarkan
oleh lingkungan sekitar ita.
Macam-macam norma yang pernah diajarkan kepada kita :
1. Norma-norma yang diajarkan oleh orang tua
misalnya: memakai pakaian yang sesuai, mengucapkan
terima kasih,
menggunakan tangan kanan jika menerima sesuatu, dan
sebagainya
2. Norma-norma yang diajarkan oleh masyarakat
misalnya : sopan santun pergaulan, bagaimana bergaul
dengan masyarakat, pergaulan muda-mudi yang baik,
bagaimana menghargai pemimpin masyarakat, bagaimana
menghargai tata cara yang berbeda di dalam masyarakat,
dan sebainya
3. Norma-norma yang diajarkan oleh sekolah
misalnya : disiplin menggunakan waktu, bagaimana
bertanggungjawab atas setiap tugas yang diberikan kepada
kita, bagaimana bekerjasama dengan orang lain,
bagaimana kita jujur terhadap segala sesuatu, bagaimana
kita tekun dalam belajar dan menjalankan tugas, dan
sebaginya
4. Norma-norma yang diajarkan oleh pemerintah
misalnya : membayar pajak, membela bangsa dan negara
dari ancaman musuh, menjaga lingkungan, dan sebagainya
5. Norma-norma yang diajarkan oleh media massa
misalnya : bagaimana hubungan muda-mudi yang baik,
norma seksual, norma etika, dan sebagainya. Harus
disadari, apa yang diajarkan oleh media massa kadang kala
menimbulkan berbagai konflik kepentingan, konflik norma-
norma baru yang berbeda dengan norma-norma yang ada
sebelumnya
B. MEMBANGUN HATI NURANI
Hati nurani merupakan pusat kehidupan manusia, pusat
kepribadian
manusia. Di dalam hati nurani, manusia memiliki nilai-nilai
hidup yang dapat menata dan mengarahkan hidupnya. Oleh
sebab itu, hati nurani manusia seharusnya diisi keutamaan
yang berdasarkan pada nilai-nilai kebenaran TUHAN
dimana bergantung sekali pada iman kita dan usaha kita
untuk membangun hubungan kehidupan kepada-Nya.
Membangun kehidupan yang terpanggil untuk memelihara
dan menjalankan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari
C. GAYA HIDUP MODERN
Manusia modern mengalami banyak perubahan dalam pola
hidupnya, khususnya menyangkut hal-hal yang
berhubungan dengan norma-norma dan nilai-nilai hidup.
Ada pandangan hidup yang sekarang ini (di jaman modern)
dianut oleh manusia, yaitu segala sesuatu yang dianggap
berguna, menyenangkan, dan dianggap baik, dianggap sah-
sah saja. ”Cara dapat dibenarkan oleh tujuan dan
kegunaannya”.
Tujuan menghalalkan segala cara !
Kedurhakaan selalu diikuti dengan kemerosotan moral,
misalnya : pergaulan bebas, pornografi, free sex,
perceraian, homoseksual, dan sebagainya. Hal-hal seperti
itu akan mengancam hidup manusia di jaman modern ini.
Beberapa gaya hidup modern yang perlu kita pelajari :
1. New Morality
Jaman modern diwarnai dengan revolusi moral (New
Morality) yang sangat besar, yang mengarah kepada krisis
moral. Paa yang dianggap dahulu tabu dan tidak boleh,
sekarang menjadi hal yang bisa dan diperbolehkan.
Misalnya : hubungan sex sebelum nikah adalah hal yang
”biasa-biasa saja”, hubungan seks sebelum menikah
adalah bukti cinta kasih pada pasangan. Orang-orang
muda merasa ”belum normal” jika belum memiliki
pengalaman seksual dengan lawan jenisnya. Hidup
bersama sebelum menikah (kumpul kebo) menjadi
”identitas modern” anak-anak muda yang hidup di kota-
kota besar. jika tidak mengikutinya, dianggap ketinggalan
jaman.
Dasar Revolusi Moral
Tujuan revolusi moral adalah membebaskan manusia dari
belenggu atau ikatan yang sifatnya tradisional, kuno.
Segala hal dan segala macam peran manusia harus
dibebaskan dari hal-hal yang tradisional. Misalnya,
seksualitas harus dibebaskan dari hal-hal tradisional yang
mengikat dan menghambatnya. Tujuan utama seksualitas
adalah memberi kepuasan kepada manusia, dalam bentuk
apa pun dan dimana pun, kapan pun dan pada waktu apa
pun. Segala hal atau segala sesuatu yang menghambat
pemuasan seksual dianggap jahat.
Nafsu seks dilihat dan diperhitungkan sebagai suatu daya
yang otonom yang sangat mempengaruhi manusia. Sama
seperti nafsu-nafsu yang lain : kalau haus harus minum,
kalau lapar harus makan, kalau mengantuk harus tidur,
maka ketika nafsu seks timbul, manusia harus menyalurkan
nafsu seks tersebut. Nafsu seks harus disalurkan, untuk
memberi kepuasan kepada manusia. Sebab jika tidak,
maka manusia akan mengalami gangguan kesehatan
mental dan emosi. Kepuasan seksual harus dialami
manusia sesering mungkin. Oleh sebab itu, revolusi moral
sangat menganjurkan adanya pergaulan bebas yang
disertai dengan seks bebas.
2. Seks di luar Nikah
Hubungan seks sebelum nikah, selalu terjadi dengan
berbagai macam alasan, yang sebenarnya tidak masuk
akal.
a. Keperawanan (menjaga kesucian hidup sebelum
pernikahan) adalah
hal yang sangat penting bagi seorang wanita. Bila seorang
wanita
melakukan hubungan seks sebelum menikah, ia tidak dapat
terlindung dari tuduhan-tuduhan yang mengakibatkan
adanya
hukuman. Seks sebelum nikah selalu berakibat adanya
hukuman.
Seks sebelum nikah bukanlah hanya sekedar persoalan
kuno atau
modern, tetapi kebenaran hidup yang harus dijaga dan
dijalankan
dalam kehidupan.
b. Hubungan seks sebelum nikah, yang disamakan dengan
percabulan,
adalah merupakan tindakan/perbuatan dosa.
c. Tidur bersama tanpa dilandasi hubungan pernikahan
adalah tindakan
dosa perzinahan, yang akan dihukum oleh TUHAN
d. Percabulan ; pergaulan seks yang bebas, di mana
seseorang selalu
didorong oleh nafsunya untuk mencari pengalaman seks ;
merupakan
sikap hati yang najis, yang dibenci dan akan dihukum
e. Seks dan Seksualitas adalah anugerah yang perlu
dihayati.
Hubungan kelamin sebelum menikah mempersempit
kemungkinan
berkembangnya hubungan pernikahan yang ideal.
Menimbulkan rasa
saling curiga antar pasangan suami-istri
3. Aborsi
Aborsi (menggugurkan kandungan, janin, yang dilakukan
dengan sengaja) menjadi persoalan jaman modern yang
sangat gawat. Aborsi lebih berbahaya dibandingkan dengan
melahirkan secara normal. Aborsi menyebabkan seorang
wanita (ibu) mengalami komplikasi fisik dan menanggung
beban perasaan bersalah.
Aborsi biasanya dilakukan dengan beberapa alasan :
a. Alasan vital. Aborsi dilakukan demi menyelamatkan sang
ibu, jika
kehamilan dan persalinan mengancam nyawa sang ibu
(karena
penyakit, gangguan jiwa)
b. Alasan Janin. Aborsi dilakukan karena janin dalam
keadaan
tidak memungkinkan untuk dilahirkan, janin ada
kemungkinan tidak
dapat menjalankan kehidupannya secara normal, janin
mengalami
cacat tetap
c. Alasan kriminal. Aborsi dilakukan karena alasan
kehamilan terjadi
akibat perkosaan, akibat pemaksaan kehendak
d. Alasan sosial. Aborsi dilakukan demi kesejahteraan ibu,
anak,
karena keadaan ekonomi, keadaan keluarga yang tidak
memungkinkan hadirnya seorang anak
Kita harus tegas untuk mengatakan bahwa aborsi
merupakan pembunuhan dosa berat yang menuntut
hukuman. Pembunuhan secara bebas orang yang tidak
bersalah adalah kekejian.
4. Egoisme
Egoisme merupakan bentuk dari kata Latin, ego yang
berarti ”aku” atau ”saya”. Egoisme adalah ajaran yang
berhubungan dengan ego (aku,saya) dan ada yang bersifat
positif (sehat) dan negatif (tidak sehat).
Egoisme positif (sehat) adalah pandangan dan sikap hidup
yang melihat pemenuhan kebutuhan sendiri dan
penghargaan terhadap diri sendiri sebagai hal yang sangat
diperlukan bagi perkembangan pribadi yang wajar dan
dewasa. Misalnya, bahwa saya (manusia) perlu
penghargaan dan dihargai oleh orang lain.
Sedangkan egoisme negatif (tidak sehat) adalah pandangan
dan sikap hidup yang mendewakan pemenuhan kebutuhan
diri sendiri dan penghargaan diri sendiri sebagai satu-
satunya tujuan hidup. Dalam realitas kehidupan,
pemahaman egoisme negatif (tidak sehat) seringkali
mewarnai kehidupan manusia. Egoisme adalah sikap dan
perilaku yang mendasar pada cinta diri sendiri, moralitas
yang mendasarkan kepentingan pada diri sendiri, mencari
keuntungan diri sendiri tanpa memperhatikan kepentingan
orang lain, bahkan cenderung meniadakan kepentingan
orang lain.
Egoisme tidak hanya terbatas pada kepentingan pribadi
atau perorangan, tetapi juga menghinggapi kepentingan
kelompok berdasarkan keluarga, suku, ras, golongan,
agama menjadi prioritas tujuan hidup, tanpa
memperhatikan kerugian yang dialami oleh kelompok lain.
Karena berpusat pada kepentinagn diri sendiri, kelompok
sendiri, egoisme mebawa akibat negatif bagi orang ataupun
kelompok lain. Egoisme menggiring manusia atau kelompok
pada cara pandang yang sempit. Manusia menjadi makhluk
serakah. Egoisme menjadikan orang lain sebagai objek
pemenuhan kepuasan pribadi. Egoisme membuat
pengikutnya kehilangan penghargaan terhadap orang lain.
Egoisme memandang orang lain dari segi ”berhasil guna”
atau ”berdaya guna” atau tidak. Egoisme mengganggu
kerukunan, persatuan dan kesatuan hidup antar manusia.
5. Relativisme
Relativisme berpandangan, bahwa apa yang benar atau
salah, baik atau jahat, tergantung pada orang masing-
masing, masyarakat masing-masing, atau budaya masing-
masing. Relativisme berpandangan, bahwa moralitas
berhubungan dan ditentukan oleh masing-masing orang,
masing-masing budaya, tiap-tiap kelompok masyarakat
setempat tidak boleh dipakai sebagai ukuran bagi
masyarakat lainnya. Segala sesuatu yang ada menjadi
relatif.
6. Hedonisme
Hedonisme berpendirian, bahwa kenikmatan (kenikmatan
pribadi, diri sendiri) merupakan nilai hidup tertinggi dan
dianggap sebagai tujuan utama dan terakhir dari
kehidupan. Dalam kenyataan sehari-hari, kenikmatan bisa
memiliki dimensi yang berbeda-beda. Kenikmatan menjadi
perkara dan hal-hal yang subjektif. Kenikmatan menjadi hal
yang sangat relatif bagi setiap orang
7. Individualisme
Individualisme menekankan peran dan kepentingan
perorangan atau pribadi. Individualisme berasal dari kata
Latin individuus (individualis, kata sifat), yang berarti
perorangan, pribadi, bersifat perorangan, bersifat pribadi.
Individualisme berpandangan, bahwa pribadi, perorangan
memiliki kedudukan utama dan kepentingan pribadi,
kepentingan perorangan merupakan urusan yang paling
tinggi. Kebebasan dan kepentingan pribadi menjadi dasar
dan norma hidup yang paling tinggi.
Individualisme menjebak orang untuk memiliki cara hidup
yang ”semau gue” yang mendewakan kepentingan pribadi
dan mengabaikan kepentinagn bersama.
Komentar
Posting Komentar